A.
Definisi Mitos
Mitos adalah cerita prosa rakyat yang menceritakan
kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta dan
keberadaan makhluk di dalamnya, serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang
empunya cerita atau penganutnya. Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat
mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan
terjadinya alam semesta, dunia dan para makhluk penghuninya, bentuk topografi,
kisah para makhluk supranatural, dan sebagainya. Mitos dapat timbul sebagai
catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau
personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual.
Mereka disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk
membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu
komunitas.
Klasifikasi mitos Yunani terawal oleh Euhemerus, Plato (Phaedrus),
dan Sallustiusdikembangkan oleh para neoplatonis dan dikaji
kembali oleh para mitografer zaman Renaisansseperti dalam Theologia
mythologica (1532). Mitologi perbandingan abad ke-19 menafsirkan
kembali mitos sebagai evolusi menuju ilmu (E. B. Tylor),
"penyakit bahasa" (Max Müller), atau penafsiranritual magis yang
keliru (James Frazer). Penafsiran selanjutnya menolak pertentangan antara mitos
dan sains. Lebih lanjut lagi, mitopeia seperti novel fantasi, manga,
dan legenda urban, dengan berbagai mitos buatan yang dikenal
sebagai fiksi, mendukung gagasan mitos sebagai praktik sosial yang terus
terjadi.
B. Asal Usul Mitos Segitiga Bermuda,
Dari UFO Hingga 'Rumah Iblis'
Sejumlah kapal dan pesawat dilaporkan hilang tanpa jejak
selama berabad-abad di sebuah area segitiga raksasa yang menghubungkan Bermuda,
Florida, dan Puerto Rico: Segitiga Bermuda.
Christopher Columbus, di masa awal penjelajahannya ke Dunia
Baru pada 1492, adalah yang pertama mencatat soal anomali di sekitar segitiga
imajiner itu.
Saat kapal-kapal armadanya, "Nina",
"Pinta", dan "Santa Maria" melintas Laut Sargasso,
penjelajah Italia itu mengaku kompasnya menjadi tak menentu. Ia juga melihat
cahaya aneh di cakrawala pada 11 Oktober 1492, yang hingga kini belum bisa
dijelaskan.
Namun, asal-usul legenda Segitiga Bermuda bisa dilacak 16
September 1950, saat wartawan kantor berita Associated Press,
E. V. W. Jones mencatat apa yang ia deskripsikan sebagai serangkaian kejadian
"misterius" hilangnya sejumlah kapal dan pesawat antara perairan
Florida dan Bermuda di akhir tahun 1940-an.
Ia menyebut sejumlah kejadian, dari hilangnya Penerbangan 19
Angkatan Laut AS, misi latihan 5 bomber torpedo TBM Avenger yang terbang dari
Florida pada 5 Desember 1945, juga hilangnya pesawat komersial "Star
Tiger" pada 30 Januari 1948 dalam penerbangan dari Azores ke Bermuda. Tak
ketinggalan "Star Ariel"yang raib 17 Januari 1949 dalam penerbangan
dari Bermuda ke Kingston, Jamaica.
"'Laut iblis' telah menjebak nasib 135 orang yang terbang atau berlayar di Atlantik dalam beberapa tahun belakangan," tulis Jones seperti dimuat Bernews.com. "Manusia modern dengan keajaiban mesin tak punya kata kunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka yang lenyap, tanpa jejak bersama kapal atau pesawatnya."
C. Bumbu Fiksi
"'Laut iblis' telah menjebak nasib 135 orang yang terbang atau berlayar di Atlantik dalam beberapa tahun belakangan," tulis Jones seperti dimuat Bernews.com. "Manusia modern dengan keajaiban mesin tak punya kata kunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka yang lenyap, tanpa jejak bersama kapal atau pesawatnya."
C. Bumbu Fiksi
Dua tahun kemudian giliran artikel di majalah "Fate"
muncul. Penulisnya, George X Sand menceritakan sejumlah insiden misterius
hilangnya sejumlah kapal di wilayah tersebut. Penulis, M. K. Jessup juga
menyajikan kisah serupa dalam artikel "The Case for The UFO",
dirilis tahun 1955 -- yang mengarahkan keterlibatan alien.
Kisah serupa kembali diulang Donald E. Keyhoe dalam "The
Flying Saucer Conspiracy"[1955), juga Frank Edwards dalam tulisannya, "Stranger
Than Science" [1959].
Hingga akhirnya muncullah Vincent H. Gaddis yang memperkenalkan istilah "Segitiga Bermuda" dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah "Argosy", yang berjudul "The Deadly Bermuda Triangle" -- Segitiga Bermuda yang mematikan.
Hingga akhirnya muncullah Vincent H. Gaddis yang memperkenalkan istilah "Segitiga Bermuda" dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah "Argosy", yang berjudul "The Deadly Bermuda Triangle" -- Segitiga Bermuda yang mematikan.
"Selama dua dekade terakhir, laut misterius di halaman
belakang kita telah merenggut hampir 1.000 nyawa," tulis Gaddis.
"Angkatan Laut AS, Angkatan Udara dan penyelidik Penjaga mengakui bahwa
mereka bingung. Beberapa petunjuk yang ada hanya menambah
kemisteriusannya."
Disusul tulisan Ivan T. Sanderson, "Invisible
Residents" [1970] yang menyebut spekulasi bahwa Segitiga Bermuda
adalah bukti adanya peradaban bawah laut yang cerdas dan berteknologi tinggi
yang bertanggung jawab atas berbagai fenomena misterius. Makin banyak buku soal
itu yang ditulis, dipakai inspirasi sejumlah film. Spekulasi pun makin
liar.
Tulisan yang relatif masuk akal baru terbut pada 1975 oleh
Larry Kusche, pustakawan Arizona State University. Ia membongkar mitos yang ia
sebut sebagai "misteri yang diproduksi" dalam buku "The
Bermuda Triangle Mystery-Solved".
Ia menggali bukti arsip seperti rekaman data cuaca, laporan resmi penyelidik, laporan media masa, dan dokumen lain -- fakta yang kerap diabaikan oleh para penulis sebelumnya.
D. Fakta Ilmiah
Ia menggali bukti arsip seperti rekaman data cuaca, laporan resmi penyelidik, laporan media masa, dan dokumen lain -- fakta yang kerap diabaikan oleh para penulis sebelumnya.
D. Fakta Ilmiah
'Misteri' Segitiga Bermuda' sekian lama menyandera imaji
manusia, bahkan hingga saat ini. Sejumlah orang mencari dan mempertanyakannya
ke sumber yang tepat dan terpercaya. Salah satunya, Badan Antariksa Amerika
Serikat (NASA).
Seperti dimuat dalam situsnya, NASA membantah spekulasi ada
kaitan Segitiga Bermuda dan lubang hitam 'black holes'.
"Tidak ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak ada yang namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric Christian.
"Tidak ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak ada yang namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric Christian.
Astrobiologis dan ilmuwan senior NASA, David Morrison juga
meminta orang-orang penasaran untuk menkaji secara nyata dan fakta. "Bukan
fantasi."
Lembaga pemerintah Amerika Serikat, National Oceanic and
Atmospheric Administration (NOAA) yang mengurus persoalan lingkungan, di
antaranya badai dan tsunami, juga pernah menjelaskan tentang Segitiga Bermuda.
Sekaligus membantah sejumlah spekulasi yang berseliweran. "Seperti mahluk ekstraterresterial yang menculik manusia untuk dijadikan kelinci percobaan, pengaruh Atlantis Yang Hilang, pusaran yang menyedot benda ke dimensi lain, dan ide-ide lain yang tak kalah anehnya." Termasuk, soal rumah iblis atau keberadaan piramida di sana.
Sekaligus membantah sejumlah spekulasi yang berseliweran. "Seperti mahluk ekstraterresterial yang menculik manusia untuk dijadikan kelinci percobaan, pengaruh Atlantis Yang Hilang, pusaran yang menyedot benda ke dimensi lain, dan ide-ide lain yang tak kalah anehnya." Termasuk, soal rumah iblis atau keberadaan piramida di sana.
NOAA menyebut, beberapa dugaan didasarkan pada sains, meski
tanpa didasari bukti. Namun yang jelas, "Angkatan Laut AS (US Navy) dan
penjaga pantai (US Coast Guard) berpendapat bahwa tidak ada penjelasan
supranatural untuk berbagai bencana di laut. Pengalaman mereka menunjukkan,
kombinasi dari alam dan kesalahan manusia, mengalahkan penjelasan fiksi ilmiah paling
terpercaya sekali pun."
Lembaga itu menambahkan, laut sejatinya selalu menjadi tempat misterius untuk manusia. Saat cuaca buruk terjadi dan adanya kesalahan manusia, ia bisa menjadi tempat yang sangat mematikan. Ini adalah kenyataan yang terjadi di seluruh dunia.
Lembaga itu menambahkan, laut sejatinya selalu menjadi tempat misterius untuk manusia. Saat cuaca buruk terjadi dan adanya kesalahan manusia, ia bisa menjadi tempat yang sangat mematikan. Ini adalah kenyataan yang terjadi di seluruh dunia.
"Tak ada bukti bahwa kehilangan misterius terjadi
dengan frekuensi lebih besar di Segitiga Bermuda dibanding lokasi lain di
lautan dunia," NOAA menyimpulkan.
Seiring berlalunya waktu, keangkeran kawasan dalam wilayah
imajiner yang menghubungkan Bermuda, Florida, dan Puerto Rico, memudar. Dan
kini resmi dinyatakan: Segitiga Bermuda adalah mitos.
Selama beberapa dekade, Segitiga Bermuda identik dengan
wilayah 'terkutuk', lokasi hilangnya banyak pesawat dan kapal -- beserta
manusia yang ada di dalamnya. Perairan itu dikaitkan dengan banyak spekulasi
dari markas alien, black hole atau lubang hitam yang menyedot benda dan membawanya
ke dimensi lain, piramida misterius, wilayah Atlantis Yang Hilang, sampai rumah
iblis.
Kini, National Oceanic and Atmospheric Administration
(NOAA), badan ilmiah di bawah Departemen Perdagangan AS kembali meluruskan
segala anggapan itu. NOAA menegaskan, faktor cuaca dan buruknya navigasi
menjadi segala penyebab hilangnya banyak alat transportasi di Segitiga Bermuda.
"Tidak ada bukti bahwa kehilangan misterius yang
terjadi di Segitiga Bermuda terjadi dengan frekuensi yang lebih besar
dibandingkan wilayah laut lainnya," demikian pernyataan lembaga itu dalam
situsnya bukan ini, seperti dimuat Daily Mail, 9 Februari 2014.
Ben Sherman, juru bicara Layanan Kelautan Nasional NOAA
kepada Sun Sentinel mengatakan, lembaganya menulis kisah Segitiga Bermuda sebagai
bagian dari program pembelajaran masyarakat dan menjawab pertanyaan dari para
pembaca situs.
NOAA juga berpegangan pada bukti ilmiah dari Angkatan Laut
AS atau US Navy dan US Coast Guard yang tak mengakui eksistensi Segitiga
Bermuda, sebagai wilayah geografis yang memiliki ancaman khusus untuk kapal
atau pesawat.
"Berdasarkan kajian, kecelakaan pesawat dan kapal di
daerah tersebut selama bertahun-tahun, tidak ditemukan bukti yang
mengindikasikan bahwa itu disebabkan apa pun selain penyebab fisik."
Namun, tak semua setuju dengan NOAA atau alasan badan
pemerintah AS lainnya. Salah satunya, Minerva Bloom, relawan dari Naval Air
Station Fort Lauderdale Museum -- pangkalan Penerbangan 19 (Flight 19) di mana
5 pesawat pembom torpedo yang lepas landas dari Fort Lauderdale untuk latihan
pada Desember 1945. Mereka tak pernah kembali.
"Mungkin bukan alien atau yang berkaitan dengan itu.
Namun, menurutku, ada sesuatu yang tak buasa di sana," kata dia, seperti
Liputan6.com kutip dari Sun Sentinel.
Ini salah satu alasannya: suatu hari di awal tahun 1990-an,
Minerva dan keluarganya terbang dengan pesawat milik maskapai Chalk's
International Airlines dari Bahama ke Fort Lauderdale.
"Pilot saat itu berkata, 'Kita akan terbang di atas
Segitiga Bermuda'. Tiba-tiba, sekrup
jatuh dari panelnya," kata Minerva. "Pilot itu berkata, 'itu sudah
pernah terjadi sebelumnya, tak perlu khawatir'. Tapi kami merasa ngeri."
Pertanyaan soal Segitiga Bermuda juga pernah ditujukan ke
Badan Survei Geologi AS (USGS). Meski mengakui keberadaan gas hidrat di sedimen
dalam laut di tenggara AS atau wilayah barat Segitiga Bermuda, dan bahwa gas
bisa berkaitan dengan fenomena tenggelamnya kapal, geolog USGS, Bill Dillon
membantah hipotesa itu sebagai penyebab tenggelamnya kapal di Segitiga Bermuda.
Sebab, pelepasan gas hidrat hanya terjadi di akhir zaman es,
sekitar 15.000 tahun lalu atau lebih. Di mana saat itu kapal yang paling maju
yang mungkin bisa dibuat manusia saat itu, tak lebih dari kayu berongga.
Apalagi, terbukti lebih banyak kapal yang tenggelam di lokasi lain.
"Misteri Segitiga Bermuda tak lebih dari dongeng. Maaf," kata Dillon,
di laman USGS.
Badan Antariksa InNASA pun berpendapat demikian. "Tidak
ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak ada yang
namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten
dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric
Christian.
E. Berawal dari Columbus
Christopher Columbus, di masa awal penjelajahannya ke Dunia
Baru pada 1492, adalah yang pertama mencatat soal anomali di sekitar segitiga
imajiner itu.
Saat kapal-kapal armadanya, "Nina",
"Pinta", dan "Santa Maria" melintas Laut Sargasso,
penjelajah Italia itu mengaku kompasnya menjadi tak menentu. Ia juga melihat
cahaya aneh di cakrawala pada 11 Oktober 1492, yang hingga kini belum bisa
dijelaskan.
Namun, istilah 'Segitiga Bermuda' baru tenar setelah Vincent
H. Gaddis menuliskannya dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah
"Argosy", yang berjudul "The Deadly Bermuda Triangle" --
Segitiga Bermuda yang mematikan.
Sementara, salah satu bukti bahwa Segitiga Bermuda bukan
satu-satunya lokasi kehilangan misterius terjadi Januari tahun lalu. Kala itu,
jutawan fashion Italia, Vittorio Missoni dan 5 orang lainnya hilang saat
melintasi Laut Karibia.
Di tengah ketidakjelasan itu, muncul teori baru: pesawat
beserta seluruh penumpangnya menjadi korban dari "Kutukan Los
Roques", fenomena yang dikait-kaitkan dengan Segitiga Bermuda. (Ein/Ism)
F. Nilai-nilai Kemanusiaan yang Terkandung
dalam Mitos
1. Nilai Positif
Ø Dalam hal mitos tersebut, kita diajarkan untuk
mempercayai fakta yang ada dan bukan dari cerita belaka.
Ø Jika kita mempercayai sesuatu, ada kalanya kita
memastikan terlebih dahulu sebelum mengungkapkannya.
2. NILAI NEGATIF
§ Karena mitos ini menjadi legenda masih banyak
yang mempercayai hal-hal yang mengandung ghaib, maka cara ini bisa terjadi
kemusyrikan karena percaya bahwa tempat itu adalah daerah terkutuk.
Sumber :
http://news.liputan6.com/read/559322/asal-usul-mitos-segitiga-bermuda-dari-ufo-hingga-rumah-iblis
http://news.liputan6.com/read/822682/pernyataan-resmi-as-segitiga-bermuda-mitos-belaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar